Advanced Search
Hits
4648
Tanggal Dimuat: 2011/04/07
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia tidak dibenarkan?
Pertanyaan
Mengapa bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia tidak dibenarkan?
Jawaban Global

Para juris yang memandang tidak boleh bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia berargumen dengan dalil-dalil yang harus kita rujuk pada kitab-kitab fikih untuk mengetahui dalil-dalil tersebut. Namun pertanyaan ini dapat diajukan dalam bentuk yang lain bahwa apa manfaat hukum seperti ini dan sejatinya apa falsafah ketidakbolehan ini menurut sebagian juris tersebut? Dalam menjawab pertanyaan ini kami akan menyebutkan beberapa poin sebagai berikut:

1.     Menuntut dan mempelajari ilmu bagi pelajar agama lainnya adalah sebuah keharusan untuk menggondol derajat ijtihad yang akan menyebabkan kelestarian hauzah ilmiah dan agama berikut kemajuannya.

2.     Meski ulama besar yang telah mendahului kita telah banyak menjawab banyak persoalan dan problematika namun masih banyak persoalan yang tersisa yang harus dijawab oleh orang-orang yang hidup setelahnya.

3.     Kaum Muslimin setiap hari, dalam kehidupan personal dan sosialnya, urusan internal dan eksternalnya di dunia, berhadapan dengan masalah-masalah baru dan mereka tidak mengetahui taklifnya dalam masalah ini. Dalam hal-hal seperti ini, diperlukan kehadiran para fakih dan juris yang melakukan ijtihad dan menjelaskan taklif kepada masyarakat.

4.     Banyak persoalan dan subyek-subyek yang mengalami perubahan dan pergantian dan mujtahid yang masih hiduplah yang dapat mengidentifikasi perubahan subyek (maudhu’) tersebut, dengan memperhatikan kondisi ruang dan waktu, memberikan hukum atas subyek-subyek baru tersebut.

5.     Kemajuan ilmu-ilmu Islam yang memiliki asas yang sama dengan ilmu-ilmu lain.

Jawaban Detil

Sekelompok juris Syiah[1] berpandangan bagi mereka yang bertaklid untuk pertama kali (taklid ibtidâi) menginstruksikan supaya tidak bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia. Mereka berkata, “Bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal hanya dapat dibenarkan supaya (muqallid) tetap bertaklid secara benar. Artinya bahwa orang-orang yang bertaklid kepada seorang mujtahid pada masa hidupnya setelah ia meninggal mereka tetap dapat bertaklid kepadanya dengan izin dan fatwa seorang mujtahid yang masih hidup.”

Adapun bahwa juris dan fukaha kita memandang bahwa salah satu syarat untuk menjadi marja taklid adalah (masih) hidup. Mereka memandang bahwa tidak boleh bertaklid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia. Mereka memiliki dalil-dalil jurisprudensial yang dibahas dalam pembahasan teknis fikih dan bukan tempatnya di sini untuk mengurai dan menjelaskan dalil-dalil tersebut secara detil. Namun apa yang terlontar dalam pertanyaan dapat diajukan dalam bentuk yang lain. Misalnya apa manfaat hukum seperti ini? Pada hakikatnya apa falsafah ketidakbolehan ini dalam pandangan sebagian fukaha tersebut?

Karena itu, di sini kita berada pada tataran menjawab pertanyaan ini dan akan menyinggung sebagian dari manfaat hukum keharusan bertaklid kepada mujtahid yang masih hidup walau hanya sebagian sebagaimana berikut ini:

1.     Pandangan ini akan menyebabkan lestarinya hauzah-hauzah ilmiah, booming dan kemajuan mereka setiap hari. Karena sesuai dengan pandangan ini, jalan ijtihad akan tetap terbuka dan dengan menggembleng ulama lainnya di pelbagai bidang, hauzah ilmiah akan mempersembahkan mujtahid-mujtahid dan marja-marja taklid baru ke tengah masyarakat.

2.     Banyak persoalan dan problematika masa lalu telah dijawab dan diselesaikan oleh ulama terdahulu. Namun demikian, masih banyak persoalan yang tersisa yang harus dijawab oleh orang-orang yang hidup setelahnya. Bahkan pada pelbagai masalah yang telah dipecahkan, dengan memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia hari ini, boleh jadi terdapat jawaban yang lebih baik dan lebih inklusif dari jawaban yang telah diberikan oleh ulama terdahulu dapat disodorkan kepada masyarakat.

3.     Dengan memperhatikan pengajaran dan pelajaran ilmu-ilmu Islam seperti Tafsir, Fikih, Ushul dan lain sebagianya dalam pelbagai bidang keilmuan, ilmu-ilmu ini telah mengalami kemajuan dan kesempurnaan.

4.     Kaum Muslimin setiap hari dalam kehidupan personal dan sosialnya, urusan internal dan eksternalnya di dunia, berhadapan dengan banyak masalah baru dan mereka tidak mengetahui taklifnya dalam masalah ini. Dalam hal-hal seperti ini, harus terdapat para fakih dan juris yang melakukan ijtihad dan menjelaskan taklif masyarakat. Sejatinya, alasan dan rahasia mengapa kita harus merujuk kepada para mujtahid sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat adalah untuk keperluan ini. Imam Mahdi Ajf bersabda, “Hendaklah kalian merujuk kepada para perawi hadis kami (mujtahid) atas pelbagai persoalan yang terjadi (hawâdits al-wâqia’h).”[2] Pelbagai persoalan yang terjadi (hawâdits wâqia’h) adalah persoalan-persoalan baru atau kontemporer yang terjadi setiap masa, setiap abad, setiap tahun bahkan setiap hari dan seterusnya. Hanya mujtahid dan juris yang hidup dan mengenal dengan baik masanya yang dapat menjawab persoalan-persoalan ini. Dengan menelaah kitab-kitab fikih menunjukkan bahwa secara gradual dan berdasarkan pelbagai kebutuhan masyarakat, banyak masalah dan persoalan baru masuk dalam pembahasan fikih dan para juris (fukaha) menjawab persoalan tersebut. Dan juga terdapat banyak kemajuan dalam bidang ilmu Fikih, sepanjang tahun, yang dilakukan oleh para fakih masanya.

5.     Banyak persoalan dan subyek-subyek yang mengalami perubahan dan pergantian dan mujtahid yang masih hiduplah yang dapat mengidentifikasi perubahan subyek tersebut, dengan memperhatikan kondisi ruang dan waktu, mereka memberikan hukum atas subyek-subyek baru tersebut dengan melakukan inferensi (istinbâth) dari dalil-dalil (ayat dan riwayat).[3] [IQuest]



[1]. Menurut hemat kami pertama, taklid untuk pertama kalinya kepada mayit dibolehkan dan apabila mayit tersebut lebih pandai (a’lam) maka hukumnya adalah wajib. Kedua, dalam urusan-urusan sosial harus bertaklid hanya kepada Rahbar (Supreme Leader) dan dalam urusan-urusan non-sosial maka dibolehkan bertaklid kepada selain Rahbar (Supreme Leader).  

[2]. “Waamma al-hawadits al-waqia’ah farji’u ila ruwati haditsina.” Ihtijâj Thabarsi, jil. 2, hal. 283.  

[3]. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, Dah Guftâr Syahid Muthahhari Ra, Guftâr Ashl-e Ijtihâd dar Islâm.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Dari sudut pandang al-Qur'an, apakah manusia itu merupakan makhluk yang amat zalim (zhalûm) dan amat bodoh (jahûl) ataukah ia merupakan seorang khalifatullah?
    12363 Tafsir
    1.     Al-Qur'an dari satu sisi menyebutkan kedudukan tinggi manusia dengan ragam redaksi dan dari sisi lain, terdapat juga ayat-ayat yang mencela dan mengecam manusia.2.     Gerakan manusia dalam dua kurva menanjak (qaus shu'udi) dan menukik (qaus nuzuli) tidak ...
  • Apakah benar bahwa sanad hadis-hadis para maksum tidak bersambung kepada Rasulullah Saw?
    12433 Dirayah al-Hadits
    Syiah memandang para imam (khalifah Rasulullah Saw) sebagai maksum dan atas dasar ini sebagaimana sabda dan ucapan Rasulullah Saw, ucapan dan sabda para Imam Maksum As memiliki hujjiyah (dapat dipertanggungjawabkan) dan tidak perlu penyandaran kepada Rasulullah Saw. Hadis-hadis yang disampaikan oleh para Imam Maksum As terbagi menjadi ...
  • Bagaimana manusia dapat menjadi kekasih Allah Swt?
    18471 Akhlak Praktis
    Mahabbah akar katanya adalah “hubb” yang bermakna kecintaan. Kecintaan Tuhan kepada para hamba tidak bermakna kecintaan yang dipahami secara umum oleh manusia; karena kemestian makna urf ini adalah reaksi kejiwaan yang tentu saja Tuhan suci dan terjauhkan dari sifat seperti ini. Kecintaan Tuhan kepada para hamba bersumber dari ...
  • Apa yang dimaksud dengan setan dari golongan manusia?
    15947 Teologi Lama
    Setan merupakan kata benda (nomina) umum untuk setiap entitas yang congkak, pembangkang dan menyesatkan. Baik dari golongan manusia atau dari golongan jin atau dari golongan mana pun. Dalam al-Qur'an setan tidak disebutkan sebagai entitas khusus, melainkan pada manusia jahat, penyebar fitnah, perusak juga disebut sebagai setan.
  • Apakah Abdullah bin Mas’ud merupakan salah seorang pecinta Ahlulbait As? Apakah ia menerima imamah Sayidina Ali As?
    9829 Sejarah Para Pembesar
    Abdullah bin Mas’ud merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang turut serta dalam banyak peperangan pada masa-masa awal kedatangan Islam. Abdullah bin Mas’ud merupakan sahabat terdekat Rasulullah Saw. Di samping itu, Abdullah bin Mas’ud adalah pembaca al-Qur’an dan memiliki mushaf sendiri. Rasulullah Saw dan Sayidina Ali menyebut namanya dengan ...
  • Apa pentingnya memberi salam menurut Rasulullah Saw?
    11375 خوش رفتاری
    Manusia adalah entitas sosial yang membutuhkan hubungan, persahabatan dan kecintaan terhadap sesamanya. Memberikan salam merupakan langkah pertama untuk membina hubungan baik antara dua manusia yang membawa beragam pesan seperti persahabatan, ketulusan, kecintaan, kerendahan hati, doa kebaikan, memberikan jaminan kepada pihak lawan bicara dan lain sebagainya.
  • Apa saja tipologi dan nilai plus yang dimiliki oleh kitab Bihâr al-Anwâr? Kritikan apa saja yang dapat dilontarkan atas kitab ini?
    6150 تألیفات شیعی
    Kumpulan riwayat kitab Bihâr al-Anwâr merupakan karya magnum opus Allamah Muhammad Baqir Majlisi. Kitab ini merupakan ensiklopedia (Dairat al-Ma’ârif) besar hadis mazhab Syi’ah yang mencakup seluruh masalah-masalah agama, seperti tafsir al-Qur’an, Sejarah, Fikih, Teologi dan lain-lain. Di antara tipologi dan keunggulan paling penting kitab Bihâr ...
  • Apakah khutbah akad nikah dapat dibacakan tanpa adanya saksi?
    7277 Hukum dan Yurisprudensi
    Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah sebuah ikatan suci untuk membentuk keluarga dan bersifat sosial. Pernikahan memiliki banyak pengaruh dan efek positif bagi setiap individu di antaranya adalah untuk melepaskan insting seksual, reproduksi dan kelestarian manusia, kesempurnaan manusia, ketenangan dan kedamaian, kesucian dan kemuliaan, memperkuat afeksi dan ...
  • Apakah ruh dan jin dapat menggangu manusia?
    14506 روح و نفس
    Informasi yang kita miliki ihwal jin sangat terbatas. Namun kita dapat menggunakan riwayat bahwa jin sebagaimana manusia memiliki taklif dan tanggung jawab serta ragam keyakinan. Sebagian mereka adalah jin yang taat dan sebagian lainnya pembangkang. Kendati jin dari sudut pandang pemikiran sangat lemah namun dari sisi ...
  • Apa yang dimaksud dengan fikih tradisional?
    6332 Hukum dan Yurisprudensi
    Yang dimaksud dengan fikih tradisional adalah ijtihad dan istinbâth (inferensi) hukum-hukum agama berdasarkan metode yang digunakan selama ribuan tahun oleh para juris Syiah dan tercatat dengan apik dalam buku-buku mereka sebagai turats. Fikih tradisional sebagaimana yang diperkenalkan oleh Imam Khomeini merupakan sebaik-baik metode untuk mengkaji ...

Populer Hits