Advanced Search
Hits
8084
Tanggal Dimuat: 2010/05/04
Ringkasan Pertanyaan
Mengingat bahwa Masjid al-Aqsha dibebaskan pada masa Umar, maka sebenarnya pembebasan Masjid al-Aqsha terjadi pada masa kepemimpinan Sunni. Apa saja prestasi yang diraih dan diperoleh Syiah sepanjang perjalanan sejarah?
Pertanyaan
Masjid al-Aqsha dibebaskan pada masa Umar dan juga pada masa kepemimpinan Sunni, Shalahuddin Ayyubi. Apa saja yang menjadi prestasi Syiah sepanjang perjalanan sejarah? Apakah Syiah berhasil menaklukan satu jengkal tanah untuk Islam? Apakah Syiah pernah mengusir dan memukul mundur musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin?
Jawaban Global
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil.
Jawaban Detil

Supaya jawaban yang diberikan selaras dengan pertanyaan yang diajukan, sang penanya memperkenalkan dua orang dalam pertanyaannya, yang pertama salah seorang salaf (terdahulu) bernama Umar bin Khattab dan yang lain khalaf (terkemudian) bernama Shalahuddin Ayyubi.

Sebagai bandingannya, kami akan menyebutkan peran dan jihad Syiah pada masa salaf (terdahulu) dan khalaf (terkemudian). Pada masa salaf, cukup kami menyebutkan jihad pada masa Rasulullah Saw yang diemban oleh Baginda Ali As, dan hadis “laa fata illa ‘Ali wala saif illa Dzulfiqar,” adalah hadis yang ditujukan berkenaan dengan beliau. Pada perang Khandaq, dan hari tatkala Rasulullah Saw bersabda: “Seluruh Islam atau Iman berhadap-hadapan dengan seluruh kemusyrikan.”[1]

Ali bin Abi Thalib dalam membela Islam dan membunuh Amru bin Abduwud, jawara dan tokoh Arab yang masyhur, beliau menunjukkan keberanian dan keikhlasan sehingga Rasulullah Saw bersabda tentangnya, “Limubârazati ‘Ali li Amru bin Abduwud (Yaum al-Khandaq) Afdhal min ‘Ibâdati al-Tsaqalain, aw afdhal min a’mal ummati ilaa yaum al-Qiyâmah.[2] Sebagaimana yang Anda saksikan, hanya satu perbuatan Ali bin Abi Thalib As dalam membela Islam, lebih baik dari seluruh amalan dan perbuatan umat Rasulullah hingga hari Kiamat; pelbagai penaklukan (futuhât) para khalifah dan pengikutnya masing-masing memiliki perhitungan tersendiri. Begitu juga pada perang Khaibar, Rasulullah Saw bersabda kepada Baginda Ali As: “Karrar ghaira Farrar.” Ia senantiasa menerjang dan menyerang dan tidak akan pernah kabur. Sabda Rasulullah Saw ini sebagai bandingan dari dua orang yang sebelumnya diutus ke medan laga namun keduanya kabur dari medan tersebut.

Ali As di samping melakukan jihad melawan orang-orang musyrik, beliau juga berperang melawan tiga kelompok, kelompok yang melanggar janji (nâqitsin), para penjahat (qâsithin) dan para pemberontak (mâriqin). Peperangan dengan tiga kelompok ini disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw. Demikianlah capaian dan prestasi dari para Imam Syiah.

Adapun dari pihak para penganut Syiah sendiri, cukup bagi kita menyebut dalam pelbagai penaklukan, para Syiah Ali turut serta secara aktif dalam pelbagai penaklukan itu. Orang-orang Yaman dari berbagai suku seperti Hamdan, Kanda dan sebagainya semuanya adalah para Syiah Ali dan telah menjadi sebab bagi mereka hijrah meninggalkan Yaman dan bermukim di Irak, sehingga mereka dapat turut serta dalam penaklukan-penaklukan Islam.

Yang menaklukkan Syam, Diyarbakir (salah satu daerah Turki) danAsia Minor adalah Abu Ayyub Anshari. Beliau adalah Syiah sejati Imam Ali As dan sekarang kuburannya terletak di Istanbul. Muhammad bin Abu Bakar, secara ruhani dan kejiwaan, merupakan putra Ali bin Abi Thalib, mengikut titah Baginda Ali As pergi ke Mesir dengan misi menyebarluaskan Islam dan syahid di tempat itu dan setelah dia, Malik Asytar diutus ke Mesir untuk menggantikannya namun sayang sekali di tengah perjalanan menuju Mesir, ia diracun oleh antek Mu’awiyah dan kuburannya sekarang dapat diziarahi di Mesir. Pada masa para khalifah, jarak Syiah dan Sunni tidak selebar sekarang, mereka dengan pelbagai kecendrungan ikut serta dalam pelbagai penaklukan dan peperangan. Demikianlah peran serta Syiah dari tinjauan salaf.

Adapun dari sisi khalaf, cukup kami menyebutkan bahwa penjagaan tapal batas yang merupakan tugas besar kaum Muslimin ghalibnya dilakukan oleh negara-negara Syiah.

Hamadaniyun di Syam (Suriah), Fatimiyun di Afrika Utara, Alawiyyun di Thabaristan, Dilman, Gilan adalah para penjaga tapal batas Islam. Negara-negara Syiah di India berperang melawan para penyembah berhala dan mendirikan negara Islam memiliki kisah dan sejarah tersendiri, Akbar Abad (Agra) di India merupakan pusat negara-negara Syiah.

Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari perang militer Syiah di dunia kami persilahkan Anda untuk membaca buku “Jihâd al-Syia’h” karya Dr. Samirrah Mukhtar al-Laitsi, terbitan Dar al-Jil.

Perang Shafawiyan di bagian Selatan Iran melawan pasukan Portugal dan perang orang-orang Iran melawan Rusia dan Inggris bagian utara Iran merupakan lembaran emas peperangan dan jihad orang-orang Syiah melawan tentara kafir. Ketika tentara Portugal menduduki Bandar Abbas, mereka memberi nama tempat itu sebagai “Bandar Gambrun”, Syah Abbas Shafawi dengan kekuatan iman orang-orang Syiah berhasil merebut tempat itu dan memberikan nama tempat itu sebagai “Bandar Abbas.”

Perang Nadir Syah melawan orang-orang India penyembah berhala merupakan salah satu perang terbesar dalam lembaran sejarah dunia Islam melawan para penyembah berhala.

Pada abad ini (keempat belas), tatkala tentara Inggris menjajah Irak, institusi marjaiyyah Syiah di bawah pimpinan Ayatullah Muhammad Taqi Syirazi dengan meletuskan “Tsaura al-‘Isyrin” pada tahun 1920 M berhasil membersihkan tanah persada Islami ini dari pendudukan tentara Inggris dan membebaskan negeri ini dari penjajahan.

Pada tahun-tahun terakhir, pukulan hebat orang-orang Syiah Libanon berhasil menghantam Israel dan Hizbullah Libanon berhasil memukul mundur pasukan Israel yang telah berhasil merangsek masuk ke ibu kota Libanon dimana tidak satu pun negara-negara Arab mampu melakukan hal itu. Demikian juga, orang-orang Syiah Iran, dengan munculnya Revolusi Islam Iran, berhasil mengenyahkan negara-negara kolonial Barat dari negeri mereka selamanya. Dan dewasa ini, negara dan bangsa Iran, di wilayah Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia merupakan pengibar panji perlawanan melawan penjajahan Barat dan hingga kini banyak negara yang mengambil contoh dan meneladani bangsa Iran dalam melawan bangsa penjajah, di antaranya adalah bangsa Libanon, Palestina, Irak, Sudan dan sebagainya.

Di sini kami hanya menyebut secara selintasan dan sambil lalu perang militer Syiah, namun realitas sebenarnya yang membuat penanya mengajukan pertanyaan seperti ini bahwa perang itu semata-mata perang militer, dan melupakan kehebatan perang keilmuan dan kebudayaan.

Apabila bukan karena jihad pena dan kebudayaan, maka sekali-kali para laskar setia dan rela berkorban akan berangkat ke medan peperangan untuk mengorbankan jiwa dan raganya.

Para Imam Ahlulbait As sesuai nukilan dari Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang menyingkap tirai dan sampai pada ke haribaan Ilahi: Pertama, suara pena ulama. Kedua, suara derap langkah para pejuang. Dan ketiga, suara pintalan benang wanita bertakwa.”[3] Demikian juga Rasulullah Saw bersabda, “Sebesar-besarnya jihad adalah berkata hak di hadapan penguasa tiran.”[4]

Para pemimpin maksum Syiah yang syahid akibat pedang atau kezaliman penguasa tiran lantaran sabda-sabda seperti ini mereka sampaikan di depan penguasan zalim, sementara kelompok-kelompok lain memilih berjabat tangan dan berdamai dengan para khalifah Umawiya dan Abbasiyah kecuali sedikit orang yang perhitungannya tentu saja berbeda.

Orang-orang mengira bahwa medan jihad dan pertempuran adalah semata-meta medan para pasukan, namun sejarah berbicara sebaliknya. Ulama dan ilmuan Syiah lantaran jihad kebudayaan dan penyebaran Islam murni, banyak yang syahid karena kekejaman penguasa zalim, apakah mereka terbunuh dengan pedang, atau digantung atau terkadang badan mereka dibakar.[5] Ilmuan Syiah dan Sunni mengakui hakikat ini bahwa mayoritas ilmu dan pengetahuan Islam dibangun oleh para imam Syiah dan para pengikutnya. Dan peradaban besar Islam yang terjadi pada abad kedua hingga abad kelima Hijriah merupakan hasil dari upaya ilmiah para Imam Syiah dan murid-murid mereka.

Salah satu pengetahuan yang baru muncul adalah ilmu Nahwu (sintaktis). Para ulama kedua mazhab sepakat bahwa Ilmu ini diperkenalkan pertama kali oleh Ahlulbait Rasulullah Saw. Batu pertama kaidah universal ilmu ini diletakkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As sehingga dengan perantara ilmu Nahwu tersebut kaum Muslimin dapat dengan mudah dan benar membaca teks-teks al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta teks-teks bahasa Arab lainnya. Cabang ilmu ini diserahkan kepada muridnya Abu al-Aswad Duali sehingga rincian ilmu Nahwu tersebut dilakukan di bawah pengawasan Baginda Ali As. Abu al-Aswad Duali juga, setelah menggunakan ilmu Nahwu, untuk pertama kalinya membubuhkan harakat (tanda baca) pada al-Qur’an. Satu abad setelahnya, seorang Syiah lainnya, pengikut Ali bin Abi Thalib As bernama Khalil bin Ahmad Faraheidi, yang juga merupakan peletak batu pertama sebagian pengetahuan Islam, menyempurnakan pembubuhan harakat (tanda baca) dan menjadikannya seperti al-Qur’an sekarang ini.

Karena itu, seluruh kaum Muslimin, Syiah atau Sunni semenjak awal kemunculan Islam hingga sekarang, mereka dapat membaca dengan benar al-Qur’an adalah berkat jasa pembubuhan tanda baca yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib As dan murid-muridnya.

Bagaimanapun Syiah merasa bangga dengan jihad pena dan kebudayaannya dapat memperkenalkan pemikiran Islam murni yang merupakan ajaran-ajaran Ahlulbait As – yang kedudukannya sepadan dengan al-Qur’an – kepada dunia.[6]

Di samping itu, apabila keunggulan seseorang diukur dengan keluasan wilayah geografis pemerintahannya, maka dua khalifah pertama juga lebih unggul daripada Rasulullah Saw; karena pada masa Rasulullah Saw kekuasaan yang dicapai oleh Islam lebih minim ketimbang kekuasaan yang dicapai oleh dua khalifah setelah Rasulullah Saw.

Apabila standarnya adalah keluasan wilayah geografi pemerintahan, pada pemerintahan Harun al-Rasyid, wilayah kekuasaan Islam lebih luas, maka Harun al-Rasyid lebih unggul dan berprestasi dari semuanya bahkan dari Rasulullah Saw!

Poin yang lebih tajam dari itu, bahwa perluasan wilayah kekuasaan dan pemerintahan Islam, bukan karena jasa dua khalifah ini, melainkan karena jasa ajaran-ajaran Islam yang diterima oleh hati-hati manusia dan karena masyarakat telah muak dengan penguasa-penguasa kejam dan zalim yang menguasai mereka.

Seruan “Laa ilaha illaLlah” (tiada tuhan selain Allah) disertai dengan tuntutan rasa keadilan, kesetaraan, sangat menarik minat dan perhatian bangsa-bangsa kepada Islam. Namun demikian, budaya jihad dan syahada yang diajarkan Islam, dalam penyebarannya, tidak boleh dilupakan begitu saja.

Di samping itu, perbedaan dan ikhtilaf pada masa khilafah Imam Ali As merupakan hasil dari model dan metode pemerintahan sebelumnya, khususnya pada masa khalifah ketiga. Tuntutan keadilan dan cinta kemanusiaan, berubah menjadi puritanisme dan kefanatikan suku. Baginda Ali As ingin mengembalikan umat pecinta dunia dan fanatik ini kepada masa Rasulullah Saw. Para pecinta dunia, menentang model pemerintahan seperti ini yang dengan kekuasaan harta yang telah dikumpulkan sebelumnya, mereka mengerahkan tentara untuk berperang melawan Ali As. Karenanya, Baginda Ali sesuai dengan perintah tegas Rasulullah Saw dan ayat-ayat lugas al-Qur’an, berperang melawan mereka.[7]

Karena itu, pelbagai perbedaan dan ikhtilaf, bukan merupakan hasil dari pemerintahan Ali bin Abi Thalib As, melainkan konsekuensi dari pendidikan para pendahulu yang tidak menerima pemerintahan adil Ilahi.[8] [IQuest]



[1]. Kasyf al-Ghumma, jil. 1, hal. 205; Yanâbi’ al-Mawaddah, hal. 94-95; I’lâm al-Wadâ, hal. 194; Syarh Nahj al-Balâghah, Ibnu Abi al-Hadid, jil. 13, hal. 261, 285 dan jil. 19, hal. 61; Majma’ al-Bayân, Thabarsi, jil. 8, hal. 343.

[2]. Mustadrak al-Hâkim, jil. 3, hal. 32; Manâqib Khawarazmi, hal. 85; Syarh al-Muwâfiq, jil. 8, hal. 371; Farâidh al-Simthain, jil. 1, hal. 265; Târikh Baghdâd, jil. 13, hal. 19; Syawâhid al-Tanzil, jil. 2, hal. 14; Tafsir Kabir, Fakhrurazi, jil. 32, hal. 31; Syarh al-Maqâshid, Taftazani, jil. 5, hal. 298; Majma’ al-Bayân, jil. 8, hal. 343.

[3]. Al-Syahab fii al-Hukm wa al-Adab, hal. 22, sesuai nukilan dari Muhammad Thabari, Pasukh-e Jawan-e Syi’i, hal. 134.

[4]. ‘Awali al-Llâli, jil. 1, hal. 432, Hadis 131, Qala Rasulullah Saw, “Afdhal al-Jihad Kalimatun Haqqin ‘inda Sulthan Jair.

[5]. Amini, Syuhadâ al-Fadhilah, sesuai nukilan dari Muhammad Thabari, Pâsukh-e Jawân-e Syi’i, hal. 135.

[6]. Muhammad Thabari, Pâsukh-e Jawân-e Syi’i, hal. 131-135.

[7]. Shahih ibn Habbân, jil. 15, hal. 285, Hadis 6937; Mustadrak al-Hâkim, jil. 3, hal. 122; Musnad Ahmad, jil. 17, hal. 360, Hadis 11258, sesuai nukilan dari Muhammad Thabari, Pâsukh-e Jawân-e Syi’i, hal. 106-107.

[8]. Muhammad Thabari, Pâsukh-e Jawân-e Syi’i, hal. 105-107.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits