Advanced Search
Hits
5502
Tanggal Dimuat: 2017/06/10
Ringkasan Pertanyaan
Tolong jelaskan tentang penafsiran ayat 38 surah al-Fatir khususnya sehubungan dengan “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati?”
Pertanyaan
Tolong jelaskan penafsiran ayat 38 surah Fatir?
Jawaban Global
Pengetahuan Ilahi terkait dengan tujuh petala langit (langit-langit) dan bumi dan apa yang ada dalam hati (dzat al-shudur) adalah suatu hal yang disebutkan berulang kali dalam al-Quran. Sebagai contoh ayat 38 surah Fathir dimana Allah Swt berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ عالِمُ غَیْبِ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ إِنَّهُ عَلیمٌ بِذاتِ الصُّدُور»
“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Ayat ini berkata kepada manusia bahwa di samping apa yang nampak dan jelas di hadapannya, dan apa yang di tujuh petala langit dan bumi yang ghaib dan tersembunyi baginya, demikian juga apa yang tersembunyi dalam hatinya terkait dengan iman, kekufuran, pikiran-pikiran setan dan lain sebagainya, seluruhnya nampak dan berada dalam cakupan ilmu azali Allah Swt.
Pada dasarnya, ayat ini berada pada tataran menjawab permintaan orang-orang kafir dan musyrik yang berada di neraka dan memohon supaya dikembalikan ke dunia:
«وَ هُمْ یَصْطَرِخُونَ فیها رَبَّنا أَخْرِجْنا نَعْمَلْ صالِحاً غَیْرَ الَّذی کُنَّا نَعْمَلُ »
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Qs al-Fatir [35]:37)
Pada hakikatnya, makna “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi” adalah dalil atas makna “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Artinya bagaimana mungkin Allah Swt tidak mengetahui apa yang ada dalam hati manusia sementara segala sesuatu yang ada di tujuh petala langit dan bumi nampak dan jelas bagi-Nya?
Dia mengetahui bahwa apabila permintaan para penghuni nereka itu dipenuhi dan dikembalikan ke dunia, maka mereka tetap akan melakukan apa yang mereka lakukan sebelumnya sebagaimana hal ini dinyatakan secara tegas pada ayat lainnya:
«وَ لَوْ رُدُّوا لَعادُوا لِما نُهُوا عَنْهُ وَ إِنَّهُمْ لَکاذِبُونَ»
“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia (lagi), tentulah mereka kembali melakukan apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah para pendusta belaka.”
Ayat ini pada hakikatnya merupakan sebuah peringatan kepada seluruh orang beriman supaya berusaha bersikap ikhlas dalam niat dan tidak memperhatikan segala sesuatu yang lain kecuali Allah Swt, dimana apabila terdapat secuil riya sekali pun dalam niat dan motif, maka sesungguhnya Dia mengetahui segala sesuatu yang gaib dan akan memberikan ganjaran berdasarkan niat seseorang. Allah Swt bertransaksi dengan manusia berdasarkan apa yang terpendam dalam batinnya terkait dengan keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan kemudian berdasarkan keduanya akan diperhitungkan oleh Allah Swt , entah sejalan antara yang lahir dan batin, atau bertentangan.[1]
Ayat ini mengandung dua persoalan penting:
1.             Alimun bidzat al-shudur: Apa yang dimaksud dengan dzat al-shudur ini? Sebagaimana yang diketahui bahwa kalimat dzat al-shudur berulang kali disebutkan dalam al-Quran.
Kata “dzat” yang kata kerja bentuk mudzakkarnya adalah dzu aslinya bermakna pemilik (shahib). Meski para filosof dan arif memaknai hal ini sebagai hakikat dan substansi segala sesuatu – entah itu substansi atau aksidensi, akan tetapi pemaknaan seperti ini tidak ditemukan dalam bahasa Arab.[2] Makna frase dzat al-shudur adalah bahwa Allah Swt mengetahui pemilik dan empu hati-hati. Kalimat ini merupakan bentuk kiasan dari keyakinan-keyakinan dan niat-niat manusia.  Karena keyakinan-keyakinan dan niat-niat takala terpendam dalam hati seolah ia menjadi pemilik hati manusia dan berkuasa atasnya. Atas dasar itu, keyakinan-keyakinan dan niat-niat ini termasuk sebagai pemilik dan penguasa hati manusia.[3]
 
2.             Tidak ada jalan kembali: Sudah barang tentu kiamat dan kehidupan paska kematian merupakan sebuah level penyempurnaan atas dunia dan tidak masuk akal jika manusia yang berjalan menuju kepada kesempurnaan harus kembali lagi pada titik mula (dunia). Apakah manusia dapat kembali menjalani apa yang telah dilaluinya pada hari kemarin? Apakah bayi dapat kembali ke rahim ibunya? Dan apakah buah yang telah terpisah dari pohonnya dapat dikembalikan lagi ke pohonnya? Atas dasar itu tidak mungkin manusia dapat kembali ke dunia ini sebuah tempat yang telah dilalui sebelumnya.
Terlepas dari itu semua, anggaplah ada kemungkinan manusai kembali, tentu saja manusia yang pelupa akan tetap melakukan apa yang sebelumnya telah ia lakukan sebagaimana yang disinggung pada ayat 28 surah al-An’am dimana al-Quran mendustakan orang-orang ini secara tegas dan menyatakan bahwa manusia yang memohon kembali itu akan mengulang apa yang  telah dilakukan sebelumnya yang menyebabkan mereka masuk ke neraka.[4] [iQuest]

[1] Silahkan lihat, Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, jld. 18, hlm. 277-278, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. 1, 1374 S.
[2] Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad, al-Mufradāt fi Gharib al-Qur’ān, Riset oleh Daudi, Shafwan Adnan, hlm. 333, Damaskus, Beirut, Dar al-Qalam, Dal- Syamiyah, cet. 1, hlm. 1412 H.
[3] Fakhruddin Razi, Abu Abdillah Muhammad bin Umar, Mafātih al-Ghaib, jld. 244, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, cet. 3, 1420 H.  
[4] Tafsir Nemuneh, jld. 18, hlm. 280.
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Kepada siapa sajakah Allah Swt anugerahkan hikmah?
    9352 عقل، علم، حکمت
    Allah Swt dalam al-Quran berfirman: «یُؤْتِی الْحِکْمَةَ مَنْ یَشاءُ وَ مَنْ یُؤْتَ الْحِکْمَةَ فَقَدْ أُوتِیَ خَیْراً کَثیراً» “Allah akan menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah tersebut, ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan yang yang tak terhingga.” (Qs Al-Baqarah [2]:269) Hikmah, ...
  • Mengapa pada malam Qadar orang-orang dilarang mengolesi badannya dengan Saffron?
    11097 Akhlak Praktis
    1.     Saffron memiliki tiga khasiat: Untuk makanan, sebagai obat dan keindahan. Apa yang dilarang dalam riwayat adalah dari sisi keindahannya. 2.     Tidak haram mengolesi Saffron ke badan, ...
  • Apa yang dimaksud dengan argumen keteraturan itu?
    10510 Teologi Lama
    1.    Terdapat sejumlah argumen dan burhan untuk mengenal dan membuktikan eksistensi Allah Swt dan pada argumen ini terdapat beberapa metode yang kerap digunakan.Dari segi metode, argumen-argumen ...
  • Apakah Sunnah dapat menasakh al-Qur’an?
    28239 Ulumul Quran
    Terdapat beberapa pandangan sehubungan dengan nasakh al-Qur’an oleh sunnah mutawatir dan konsensus definitif (ijma’ qath’i). Sebagian berpendapat bahwa apabila terjadi kondisi seperti ini maka al-Qur’an dapat dinasakh oleh sunnah mutawatir. Namun yang masyhur di kalangan ulama, mereka menolak pendapat bahwa al-Qur’an dapat dinaskah oleh kabar tunggal (khabar ...
  • Apakah tafsiran firman Allah Swt dapat dilakukan oleh selain rasul dan utusannya?
    8108 شیعه و قرآن
    Al-Quran tentu saja berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang telah mengalami penyimpangan. Hari ini kita tidak menemukan satu pun hal yang bertentangan dengan realitas dalam al-Quran dan bahkan mereka yang meyakini tahrif dalam artian khusus sekali pun juga tidak luput perhatiannya terhadap masalah ini. Allah ...
  • Apakah selain pengikut mazhab Syiah Itsna Asyari, akan memasuki surga? Bagaimana nasib orang-orang jahil qashir di hari Kiamat?
    9028 Teologi Lama
    Menjadi penghuni surga tidak bersandar pada titel atau klaim, melainkan berpijak pada standar "iman" dan "amal saleh". Seorang Syiah juga akan menjadi penghuni surga sepanjang ia tidak sekedar mengklaim diri sebagai Syiah namun ia harus menunaikan segala tuntutan ketika seseorang menjadi Syiah kemudian mengumpulkan sangu dan bekal ...
  • Apakah melakukan bunuh-diri meski sekedar mengancam pun sesuai dengan qadha dan qadar Ilahi?
    41022 Teologi Lama
    Agar masalah ini menjadi jelas, pertama ada beberapa redaksi yang harus dipahami dengan baik, yaitu: "qadha", "qadar", "takdir" dan "qada Ilahi". Selanjutnya kami akan menjelaskan masalah qadha dan qadar. Qadar  artinya adalah ukuran, takdir bermakna mengukur (menakar) dan qadha berarti menetapkan ...
  • Apakah menggunakan pajak dan cukai yang dikumpulkan oleh rakyat Iran kemudian disalurkan untuk membantu negara-negara Muslim itu tidak bermasalah secara syar’i?
    4095 Hukum dan Yurisprudensi
    Jelas bahwa pengumpulan pajak yang dilakukan pemerintah adalah untuk memberikan pelayanan material dan moril kepada warga masyarakat. Bantuan-bantuan Republik Islam Iran kepada negara-negara Muslim, itu pun lebih banyak berupa bantuan-bantuan moril. Dan terkadang bantuan-bantuan material. Bantuan-bantuan materil ...
  • Apa hukum mengkonsumsi cacing sebagai obat?
    9798 Hukum dan Yurisprudensi
    Jawaban yang kami terima dari beberapa kantor marja' taklid (sehubungan dengan pertanyaan Anda) adalah sebagai berikut:1.     Kantor hadhrat Ayatullah al-'Uzhma Khamene'i Hf : Cacing itu dihukumi suci, tetapi diharamkan mengkonsumsinya.
  • Apakah orang yang masih melekat cilak di wajahnya dapat berwudu atau mandi?
    5774 Hukum dan Yurisprudensi
    Tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke anggota badan dan kulit badan ketika seseorang ingin berwudu atau mandi. Karena itu, apabila cilak hanya digunakan pada bagian dalam mata maka hal itu tidak akan menciderai keabsahan wudu dan mandi. Namun apabila digunakan di sekiling bagian mata atau pada ...

Populer Hits